Memberikan makanan pada si kecil memang tidak semudah menyuguhkan makanan pada orang dewasa. Hal itu tentunya karena keterbatasan seorang bayi yang belum punya daya, termasuk ketika ia tidak suka makanan tersebut ataupun ada masalah dengan pencernaan. Akibatnya ia akan memuntahkan kembali makanan yang sudah masuk ke perutnya.

Berbagai masalah ini mungkin juga sudah menjadi masalah yang kerap kali Anda hadapi. Ada yang bermasalahnya kala mulai pemberian makanan semi padat, semisal jus buah, bubur susu, atau biskuit. Tapi ada juga yang masalahnya muncul ketika mulai pemberian makanan padat, seperti nasi tim. Sebenarnya, masalah ini tak perlu terlalu dikhawatirkan.

Hanya saja orang tua harus tahu apa yang jadi penyebabnya dan kemudian segera mengatasinya.

Bila makanan tersebut baru dimasukkan sudah dikeluarkan atau dimuntahkan lagi, mungkin masalahnya ada di sekitar mulut. Bisa jadi adalah karena proses menelannya belum bagus atau si kecil tidak suka dengan makanan tersebut. Namun bila dimuntahkannya setelah beberapa lama makanan tersebut masuk ke lambung, misal, setelah setengah jam, berarti ada kemungkinan gangguan di pencernaannya. Simak beberapa hal lain yang juga menyebabkan ia memuntahkan makanannya kembali..

Gerakan Refleks Menelan Belum Berfungsi Utuh

Memuntahkan kembali makanan bisa terjadi bila refleks menelan si kecil memang belum bagus. Saat Anda menaruh makanan di bagian depan lidahnya, ia malah berusaha menelannya dengan menjulurkan lidahnya. Namun bukannya bisa masuk, malah makanannya jadi keluar lagi. Ini sering menyebabkannya menangis, dan sebisa mungkin jangan memaksanya menelan makanan saat menangis karena kemungkin tersedak sangat besar. Refleks menelan ini, akan membaik dengan sendirinya, yang pada umumnya di atas usia 6 bulan.

Jika refleks menelannya belum baik dan bayi belum bisa menelan makanan padat, Anda dapat mengatasinya dengan mengencerkan lagi makanan hingga mudah baginya untuk menelan. Lakukan secara bertahap. Misal, awalnya diblender selama 2 menit dan dilakukan selama 2 minggu. Setelah itu, diblendernya hanya 1 menit. Hingga, makanan yang awalnya cair, seperti jus, lama-lama jadi agak kasar dan makin padat. Dengan demikian si bayi lambat laun jadi terlatih. Diharapkan di usia setahun dia bisa makan nasi lembek.

Tidak menyukai Makanannya

Apapun makanan yang menurut Anda enak setengah mati, jika bayi Anda tak kenal atau tak suka dengan makanannya, baik yang semi padat ataupun padat, tentu akan ditolaknya. Jangan memaksakan bayi dengan kemauan kita karena akan membuatnya trauma. Bisa jadi setiap kali melihat mangkuk makanan, dia jadi menangis karena takut dijejalkan. Tak ada batas toleransi sampai berapa lama. Namun tentunya bukan berarti si bayi didiamkan saja dengan diberi makanan cair terus. Anda tetap harus melatihnya untuk menerima makanan padat, apalagi bila usianya sudah diatas setahun.

Ingin Yang Manis

Selama 6 bulan pertama, bayi kenalnya hanya rasa manis. Jadi, ada kemungkinan dia tak suka karena rasanya tak manis. Bila ia tidak doyan nasi tim, itu juga karena tidak ada rasa manis di dalamnya. Rasanya bisa diubah dan divariasikan agar ia suka. Misal, awalnya nasi tim tersebut diberi kecap manis, hingga rasa nasi tim tersebut masih ada manisnya. Lama-lama kecapnya agak dikurangi hingga bayi mengenal rasa nasi tim yang lain.

Muntah juga bisa terjadi, misal, karena bayi kekenyangan makan atau minum ataupun karena bayinya mengulet hingga tekanan di perutnya tinggi, akibatnya susunya keluar lagi.

Gangguan Sfingter

Gangguan pencernaan bisa juga menjadi salah satu penyebab bayi muntah saat makan. Pada saluran yang menuju lambung ada semacam katup yang dinamakan sfingter. Fungsinya untuk mencegah keluarnya kembali makanan yang sudah masuk ke lambung, tapi umumnya sfingter pada bayi belum bagus dan akan membaik dengan sendirinya sejalan bertambahnya usia.

Tentunya, kalau sfingter tak bagus, maka makanan yang masuk ke lambung bisa keluar lagi. Gejalanya biasanya kalau pada bayi akan lebih sering gumoh, terutama sehabis disusui. Begitupun bila setiap kali diberi makanan padat muntah, harus dicurigai sfingter-nya tak bagus. Apalagi bila berat badan bayinya tak naik-naik, misal selama 1-2 bulan.

Pada beberapa bayi, refleks menelannya mungkin akan tetap tak bagus bila ada kelainan saraf. Hal ini biasanya tak berdiri sendiri, tapi ada penyakit lain, semisal terkena radang otak, tumor, atau infeksi pada saraf, sehingga kontrol pergerakan ototnya tak ada.

How to handle?

Jika buah hati Anda muntah, cepat miringkan tubuhnya, atau diangkat ke belakang seperti disendawakan atau ditengkurapkan agar muntahannya tidak menyumbat saluran napas dan berakibat fatal. Jika muntahnya keluar lewat hidung, Anda tak perlu khawatir karena berarti muntahnya keluar. Bersihkan saja segera bekas muntahnya. Justru yang bahaya bila dari hidung masuk lagi terisap ke saluran napas. Karena bisa masuk ke paru-paru dan menyumbat jalan napas.

Menurut dr Tommy Indrawan, MARS, dalam buku Serba-Serbi Anak, karangan Windya Novita, gumoh merupakan dikeluarkannya isi lambung lewat mulut si kecil, namun bukan muntah. Muntah merupakan pengeluaran isi lambung lewat mulut dengan kekuatan aktif dan diikuti kontraksi isi perut. Kadang, karena sering terjadi, gumoh sering dianggap sepele, padahal bisa berpotensi berbahaya bagi anak.

“Gumoh sebenarnya adalah kejadian yang normal, namun gumoh yang berlebihan dapat menyebabkan komplikasi yang akan mengganggu pertumbuhan si bayi bila cairan yang keluar tidak seimbang dengan yang masuk. Lebih bahaya lagi bila cairan lambung sampai ke dalam paru karena sudah mengandung asam lambung, bisa terjadi infeksi,” terang dr Tommy, direktur RSB Juwita Bekasi. Dalam buku Serba-Serbi Anak diterangkan macam-macam penyebab gumoh, diantaranya;

1. Terdapat katup penutup lambung belum sempurna
Setelah masuk lewat mulut, susu akan masuk ke saluran pencernaan atas, kemudian ke lambung. Di antara organ tersebut terdapat katup penutup lambung yang ada di antara lambung dan kerongkongan. Karena itulah, jika ia baru saja diberikan susu, lalu dibaringkan, ketika katupnya belum sempurna, susu bisa keluar lagi dari mulutnya.

2. Menangis kencang
Bayi yang menangis sesenggukkan akan membuat udara tertelan berlebihan. Ketika mendapat tekanan berlebihan dari luar, sebagian isi perut bayi bisa keluar. Ada pula kemungkinan si bayi menangis karena tak bisa menelan susu dengan sempurna.

3. Lambung yang masih terlalu kecil
Bayi memiliki lambung yang kecil. Ketika susu yang ia telan melebihi kapasitas lambung. Ketika bayi menggeliat, tekanan dalam perut menjadi tinggi, alhasil terjadilah gumoh. Gumoh masih terbilang normal ketika cairan yang masuk dan keluar masih seimbang.

Jika si kecil bisa gumoh lebih dari 5 kali sehari, sebaiknya segera bawa bayi Anda ke dokter, karena jika terlalu sering, si kecil bisa kekurangan cairan. Agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan akibat gumoh, ada baiknya Anda melakukan langkah-langkah pencegahan berikut ini:

Buat bayi bersendawa dengan digendong dalam posisi berdiri sambil diletakkan di bahu, lalu tepuk perlahan punggung atasnya setiap usai minum susu.

Berikan susu sedikit demi sedikit, lalu dibuat sendawa, untuk mencegah udara masuk ke dalam lambung.

Ketika gumoh terjadi saat bayi dalam posisi tidur, jangan diberdirikan, lebih baik dibuat dalam posisi menyamping atau dibuat tengkurap untuk mengurangi kemungkinan cairan lambung masuk ke dalam paru-paru.