Banyak para orangtua berpikir memberi bayi ASI dan susu formula cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Mereka tak menyadari bahwa asupan gizi dari susu tak mampu mencukupi kebutuhan vitamin D pada bayi.

Penelitian terbaru di Amerika Serikat mengungkapkan, sebagian besar bayi tidak mendapat cukup asupan vitamin D, sekalipun diberi susu formula. Sebanyak sembilan dari 10 bayi yang diberi ASI menerima vitamin D di bawah level yang disarankan dokter.

Sementara studi Centers for Disease Control and Prevention mengungkap, 37 persen bayi yang mengasup susu formula bayi berisiko tinggi kekurangan vitamin D. “Kita harus mendidik agar ibu dan layanan kesehatan masyarakat menyertakan suplemen vitamin D,” kata Cria Perrine, ahli gizi yang terlibat dalam studi itu, seperti diberitakan dari Health.

Penelitian yang diterbitkan pekan ini dalam Jurnal Pediatric menunjukkan risiko kesehatan akibat kekurangan vitamin D bagi anak dan dewasa. Vitamin D penting bagi kesehatan tulang, sistem kekebalan tubuh, dan berbagai proses tubuh lainnya.

Terlalu sedikit vitamin D pada anak dikaitkan dengan tulang lunak, peningkatan risiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan rendahnya kolesterol baik (HDL) di kemudian hari.

Sedangkan defisiensi kekurangan vitamin D pada bayi memicu gangguan rakhitis atau lunak tulang, infeksi pernapasan dan penyakit kronis seperti diabetes tipe 1. Jumlah vitamin D yang dianjurkan harus dikonsumsi bayi dan anak-anak mencapai 200-400 mg setiap hari.

Selain suplemen vitamin D bagi ibu yang menyusui, menjemur bayi dan anak di bawah sinar matahari selama 10-15 menit akan meningkatkan proses produksi vitamin D pada tubuh bayi dan anak. Sinar matahari dikenal sebagai sumber utama vitamin D. Paparan sinar matahari akan merangsang kulit untuk memproduksi vitamin D.

Wanita yang sedang hamil dan menyusui pun sangat dianjurkan untuk mengasup vitamin D yang cukup setiap hari. Asupan vitamin D yang cukup bermanfaat untuk mencegah gangguan tulang.

Berdasar survei terhadap lebih 500 wanita, sekitar 3/4 atau 74 persen di antaranya tidak tahu bahwa wanita hamil rentan kekurangan vitamin D. Mereka juga tidak tahu bahwa vitamin D membantu menjaga tulang tetap sehat.

Hampir 2/3 atau 29 persen dari responden tidak menyadari bahwa sumber utama vitamin D diperoleh melalui sinar matahari. Mereka tidak tahu paparan sinar matahari akan merangsang kulit untuk memproduksi vitamin D.

“Bahkan jika Anda mengkonsumsi makanan diet seimbang yang sehat sebelum dan selama kehamilan, Anda mungkin tidak akan mendapatkan cukup vitamin D untuk Anda dan bayi Anda,” kata Dr Minoo Irani, konsultan dokter anak dari NHS Berkshire East.

Vitamin D bermanfaat membantu tubuh menyerap kalsium. Kekurangan vitamin D dapat menyebabkan riketsia pada janin, yaitu suatu kondisi di mana tulang menjadi ringkih. Sementara bagi ibu hamil, bisa memicu osteomalasia atau gangguan nyeri pada tulang dan otot lemah.

Selain berjemur, wanita hamil juga perlu mengkonsumsi makanan mengandung vitamin D seperti margarin dan susu. Waktu terbaik untuk mendapatkan manfaat sinar matahari penghasil vitamin D adalah antara pukul 10.00 hingga 14.00.

Di Inggris, seluruh wanita hamil wajib mengonsumsi suplemen vitamin D secara teratur hingga masa menyusui. Sebab, paparan sinar matahari di negara itu tak maksimal. Tambahan suplemen diperlukan sebagai tindakan pencegahan terhadap defisiensi gangguan tulang seperti rakitis pada bayi dan anak-anak di bawah usia lima tahun.

Untuk memaksimalkan program itu, Departemen Kesehatan Inggris menyediakan suplemen termasuk vitamin D gratis untuk para ibu hamil. Pemerintah setempat juga menyediakan vitamin tetes bagi anak untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dalam tubuh. Khusus di Indonesia, vitamin gratis bisa didapatkan melalui posyandu atau puskesmas setempat.