Seperti kita ketahui, bahwa gangguan perilaku interaksi dan komunikasi atau autisme masih menjadi tanda tanya dalam dunia medis. Meski penyebabnya belum diketahui secara pasti, ada cara untuk mengenali gejala autisme pada anak secara dini. Deteksi dan terapi autisme lebih cepat memberi hasil terbaik bagi perkembangan anak autis.

Para Ahli Neurolog Anak menyatakan bahwa spektrum autisme umumnya terdiri dari beberapa jenis, di antaranya gangguan autistik, sindroma Asperger, Pervasive Development Disorder (PDD NOS), sindroma Rett dan Childhood Disintegrative Disorder.

Peran orangtua sangat penting dalam upaya deteksi awal gejala autisme pada anak. Orangtua harus mewaspadai apabila dalam masa awal pertumbuhan bayi mulai menunjukkan gejala autisme.

Terdapat beberapa gejala gangguan pada bayi di tahun-tahun awal kehidupan mereka. Tidak adanya ‘babbling‘, atau tidak dapat menunjuk dengan jari atau mimik yang kurang pada usia 12 bulan. Juga tidak ada kata berarti pada usia 16 bulan.

Di usia yang lebih tinggi 24 bulan misalnya, balita belum mampu mengucapkan dua kata yang bisa dimengerti. Atau, bisa juga anak kehilangan kemampuan bicara atau kemampuan sosial di berbagai usia.

“Gejala-gejala ini adalah tanda bahaya (red flags) yang memberi informasi pada orang tua bahwa anak kemungkinan mengidap autisme,” ungkapnya pada konferensi pers Autism Now di FX Lifestyle Jakarta, Senin, 14 Juni 2010.

Untuk memastikan, skrining tanpa instrumen dinilai mampu mendeteksi lebih jauh gejala autisme anak. Bila diagnosis membuktikan anak mengalami gejala autisme seperti gangguan perilaku, interaksi, dan komunikasi perlu segera dilakukan terapi.

Intervensi sejak dini, menurut Dr. Hardiono berpengaruh signifikan terhadap perbaikan perilaku. Terapi dan edukasi yang tepat akan memperbaiki anak dengan autisme. “Dari pengalaman saya, pasien autismeĀ  sebagian besar tidak memerlukan obat. Yang diperlukan adalah terapi dan edukasi yang baik,” katanya menambahkan.

Terapi medis diberlakukan apabila anak berperilaku maladaptif seperti agresif, repetitif, menyakiti diri sendiri, mengalami gangguan tidur atau hiperaktif atau memiliki penyakit penyerta lainnya.

Jika anak positif terdeteksi mengidap autis, Dr. Hardiono menjelaskan terapi perlu untuk membantu sesuai kebutuhan anak. “Terapi integrasi, floor time, terapi perilaku serta melibatkan orangtua serta edukasi yang tepat membantu anak mengatasi keadaan dalam dirinya sesuai usia.