Terdapat hasil dari sebuah penelitian dari Universitas UCLA Amerika mengungkapkan, bahwa sekitar delapan persen anak rentan alergi makanan. Penelitian yang dipublikasikan Jurnal Asosiasi Medis Amerika ini juga mengurai perbedaan tipis antara alergi dan intoleransi makanan.

45144

Para Ahli alergi dan imunologi yang memimpin penelitian, Dr Marc Riedl, mengatakan, tipisnya perbedaan antara alergi dan intoleransi terhadap makanan inilah yang kemudian sering memicu salah diagnosis gangguan makan pada anak.

Dijelaskan bahwa alergi makanan terjadi akibat respon sistem kekebalan tubuh atas makanan tertentu. Sedangkan intoleransi makanan mungkin menunjukkan gejala mirip alergi, namun tidak terkait dengan sistem kekebalan tubuh.

Sebagai contoh, orang seringkali merasa pusing setelah menenggak anggur merah. Namun, sesungguhnya yang terjadi adalah ia tidak toleran terhadap sulfat dalam anggur, bukan alergi terhadap minuman tersebut.

Jadi, bagaimana agar anak bisa menerima makanan tanpa memiliki efek yang bisa mengganggu kesehatan?

Perkenalkan Makanan Baru Secara Bertahap
Pendekatan terbaik untuk mencegah terjadinya alergi atau intoleransi terhadap makanan pada bayi dan anak-anak adalah dengan melakukan perkenalan makanan baru satu per satu, mengingat reaksi alergi mungkin tidak akan langsung terjadi.

Berikan bayi Anda salah satu makanan untuk satu atau dua hari, dan jika ia menolerir makanan dengan baik, perkenalkan makanan lain padanya. Dengan cara ini, jika ada reaksi, Anda akan tahu mana makanan menyebabkan masalah.

Perlu diketahui gejala utama dari alergi makanan adalah diare, ruam kulit, gatal-gatal, muntah, sesak napas dan hidung meler serta mata berair. Jika bayi menunjukkan tanda-tanda itu, segera hubungi dokter anak dan menghentikan pemberian makanan itu sampai dokter membuat diagnosis.

Sementara gejala intoleransi makanan umumnya adalah diare, kembung dan gas. Jika anak menunjukkan tanda-tanda itu setelah mengonsumsi makanan baru, segera hentikan dan konsultasikan ke dokter anak.

Coba lagi memperkenalkan makanan baru satu atau dua bulan kemudian jika dokter tidak mengeluarkan hasil diagnosis alergi atau intoleransi. Namun, ketika reaksi negatif kembali muncul, sebaiknya tunggu memberikan jenis makanan tersebut hingga akan mencapai usia satu tahun.

Sebagai upaya pencegahan terhadap reaksi negatif, Anda harus memahami jenis makanan yang seharusnya tidak diberikan kepada anak hingga usia 12 bulan. Mulai dari kacang, kacang mentega dan setiap makanan yang mengandung kacang, susu sapi, putih telur, buah jeruk dan jus, stroberi, bawang putih, kerang, madu, gandum hingga produk gandum. Kedelai dan produk kedelai juga sebaiknya tidak diberikan, meski dapat mulai diperkenalkan pada usia sembilan bulan.

Yang perlu dipahami, jika bayi memiliki reaksi alergi awal terhadap makanan baru, bicaralah dengan dokter anak. Atau, lakukan konsultasi dengan ahli gizi tentang makanan penggantinya yang aman. Hal ini penting agar si kecil tetap mendapatkan nutrisi yang baik.