Tentunya banyak calon orangtua yang merasa kecewa ketika mendapati hasil USG menunjukkan bahwa janin yang dikandung ternyata berjenis kelamin kebalikan dari yang diinginkan. Misalnya, inginnya bayi perempuan, ternyata yang hasil USG menunjukkan ciri-ciri bayi laki-laki. Atau sebaliknya. Yang lebih parah jika pasangan suami-istri menolak melakukan USG dan ingin mendapatkan surprise saat persalinan. Ternyata, jenis kelamin anak tidak sesuai harapan salah satu dari pasangan tersebut. Padahal, usai melahirkan banyak wanita yang sudah mengalami baby blues. Apalagi jika ditambah dengan kekecewaan soal gender ini.

Alasan setiap orang untuk melahirkan anak dengan jenis kelamin tertentu kurang lebih sama, umumnya disebabkan stereotip oleh tradisi atau media. Untuk anak sulung, pasangan kebanyakan menginginkan anak laki-laki, supaya ia dapat melindungi adik-adiknya. Bagi pria, memiliki anak sulung laki-laki juga menimbulkan perasaan bak lelaki sejati baginya (sekali lagi, ini hanya masalah perasaan). Membesarkan anak laki-laki juga dianggap tidak terlalu merepotkan. Bandingkan dengan jika memiliki anak perempuan, terutama saat ia mulai ABG. Sementara itu, wanita yang mengharapkan bayi perempuan, biasanya karena membayangkan ingin mendandani anak dengan pakaian atau jepit rambut yang lucu-lucu. Ketika dewasa, anak perempuan juga cenderung ingin menemani orangtuanya. “Kita semua memang memiliki fantasi mengenai akan menjadi wanita seperti apa kita nantinya, dan bayi seperti apa yang akan kita miliki.

Seringkali orang lebih mampu menghadapi fantasi daripada yang lain,” ujar Karen Kleiman, MSW, direktur klinik Postpartum Stress Center di Rosemont, Pennsylvania, dan penulis buku This Isn’t What I Expected: Overcoming Postpartum Depression. “Tergantung bagaimana lingkungan di sekitar Anda memandang fenomena ini, dan dukungan yang Anda dapatkan, hal ini bisa menjadi masalah yang lebih besar bagi orang lain.” Maklum saja, meskipun kita tidak ingin memilih jenis kelamin anak kita nanti, ada tekanan dari luar yang menyebabkan perasaan kegagalan, kecewa, bahkan depresi, ketika kita melahirkan anak dengan jenis kelamin yang tidak diharapkan. Hal ini biasa terjadi ketika seseorang berasal dari suku atau ras tertentu yang harus meneruskan nama keluarga untuk anak laki-lakinya. Bila yang dilahirkan ternyata anak perempuan, tradisi ini tentu tidak dapat dilanjutkan.

Mengatasi kekecewaan

Untuk mengurangi rasa kecewa dan komplikasi lebih lanjut dengan anak, Anda bisa mencurahkan perasaan Anda pada orang yang Anda percayai, seperti suami, teman, kerabat, atau dokter Anda. Menurut Joyce A. Venis, RNC, direktur perawatan di Princeton Family Care Associates di Princeton, New Jersey, dan presiden Depression After Delivery Inc, melindungi perasaan kecewa itu tidak baik, karena dapat mengalihkan kemarahan atau kekecewaan tersebut pada anak. Perasaan sayang kepada anak akan berkurang, dan akan memperburuk kondisi postpartum depression yang dialami sang wanita. “Suami harus mendorong istrinya untuk mengutarakan perasaannya, dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh,” kata Venis. “Biarkan ia mengatakan sesuatu seperti, ‘Aku nggak akan bisa main Barbie dengannya (jika laki-laki)’, atau ‘Baju-baju untuk anak laki-laki itu jelek-jelek’. Tak perlu membantah dan mengatakan hal-hal seperti, ‘Tapi mainan untuk anak laki-laki juga lucu-lucu, lho’. Ini bukan hal yang sama, dan hanya menyangkal perasaan istri.”

Lalu, apa lagi yang bisa Anda lakukan?

Tak perlu menyangkal perasaan Anda. Boleh saja kok, merasa marah, kecewa, merasa bersalah, atau depresi. Mengakui perasaan ini adalah langkah pertama untuk menghadapinya. * Biarkan waktu menyembuhkan Anda. Kehamilan dan beberapa bulan pertama setelah melahirkan memang bisa menimbulkan gelombang emosional dan fisik. Gejolak hormonal, kurang tidur, dan menyesuaikan diri dengan gaya hidup yang baru, dapat membuat Anda merasa rapuh.

Cari bantuan lain jika Anda membutuhkannya. Misalnya, jika perasaan kecewa ini berubah menjadi depresi berkepanjangan. Sekitar 50-75 persen wanita baru memang mengalami baby blues setelah masa persalinan. Gejalanya bisa berupa menangis, tidak sabar, gelisah, dan mudah tersinggung, dalam 3-5 hari usai melahirkan. Namun jika baby blues dapat menghilang dengan sendirinya dalam beberapa hari hingga 2 minggu kemudian, postpartum depression dapat berlangsung berbulan-bulan, bahkan membutuhkan obat-obatan dan terapi.