Apa sebab bayi butuh tidur lelap? Apakah benar tidur lelap dapat membantu perkembangan bayi? Berikut penjelasannya.

Ternyata, ibaratnya sebuah gadget lowbatt yang kembali hidup usai di-charge, tubuh bayi yang lelah akibat beraktivitas seharian, kembali pulih setelah beristirahat. Kenyataannya, tidur tidak hanya dapat menyegarkan tubuh, tapi juga penting untuk kesehatan dan tumbuh kembang bayi. Ini alasan pertama, mengapa bayi perlu tidur lelap

article-2540516-1AB3D51B00000578-227_964x884

Jadi, memberinya ASI dan MPASI bergizi, melatihnya merangkak di lantai bermain, dan memberinya perhatian dan kasih sayang belumlah cukup, anak perlu tidur yang berkualitas agar sehat dan tumbuh kembangnya optimal. Bayi yang cukup tidur akan memiliki emosi yang stabil, lebih sehat, dan tidak mudah sakit.

Mengapa bayi perlu tidur lelap juga dikuatkan oleh berbagai penelitian menunjukkan manfaat tidur bagi kesehatan. Sebelum membahas lebih lanjut, mari kenali dulu tahapan tidur anak yang terbagi menjadi dua, tahap R atau REM (Rapid Eye Movement ) dan tahap N atau Non-REM.

Tahap tidur R sangat penting bagi otak manusia. Pada orang dewasa, yang tahap tidur R-nya kurang, kemampuan kognitif, mental dan stabilitas emosional jadi buruk. Bagaimana dengan anak atau bayi? Dampaknya tidak jauh berbeda. Kurangnya tidur membuat bayi rewel dan tidak bersemangat. Sebab, tubuh tidak memiliki waktu yang cukup untuk memulihkan tenaga.

Ini diamini riset ahli dari National Center on Sleep Disorders Research di National Institute of Health, yang menyebutkan bahwa kekurangan tidur dapat menyebabkan gangguan motorik dan mengganggu mood si kecil.  Celakanya,  bayi yang rewel dan irritable (murah marah), akan menghambat kemampuan dan kecepatan belajarnya. Efeknya bak lingkaran setan. Pada orang dewasa tidur R hanyalah 20%-25% dari total tidur. Sedangkan pada bayi yang baru lahir bisa mencapai 50% total tidur. Bayi yang lahir prematur bahkan bisa mencapai 80% tidurnya berada di tahap tidur R ini. Jadi, bolehlah dibilang, bayi membutuhkan banyak tidur R agar dapat menerima stimulasi dengan optimal dan memiliki emosi yang sehat.

Selain tidur R, tidur N atau Non-REM juga penting bagi si kecil. Sebab, dalam fase ini dikeluarkan growth hormone yang berperan bagi tumbuh kembang sang buah hati. Bila si kecil kurang tidur, maka pengeluaran hormon akan terganggu, sehingga pertumbuhan bayi pun tidak optimal.

Kecukupan tidur N juga berpengaruh pada daya tahan tubuh. Berbagai riset telah membuktikan, kurangnya tidur dapat menyebabkan terjadinya fungsi imun dan daya tahan tubuh. Anak pun jadi mudah sakit. Penelitian yang diterbitkan pada jurnal SLEEP pada 2012 menyebutkan, 15 pemuda diperiksa kondisi darah putihnya dalam keadaan cukup tidur dan kurang tidur. Seminggu pertama pemeriksaan darah diambil siang hari dan dalam kondisi tidur yang cukup dengan durasi 8 jam per malam. Selanjutnya pemeriksaan darah diambil saat para peserta penelitian terjaga selama 29 jam.

Hasil pemeriksaan itu pun dibandingkan. Hasilnya, peneliti menemukan, pemuda yang kurang tidur, kadar sel granulositnya sangat rendah. Padahal, sel granulosit adalah bak tentara yang akan melawan setiap infeksi bakteri yang menyerang tubuh. Seseorang dengan kadar sel granulosit rendah mudah terserang penyakit. Sebaliknya, bila kadarnya tinggi, maka tubuh memiliki pertahanan yang baik untuk melawan bibit penyakit.